Selasa, 20 Januari 2026

Sarkasme di Kursi Pesakitan: Ketika Teriakan "Gembong Korupsi" Menggema di Pengadilan

​JAKARTA – Ruang sidang itu mendadak senyap, sebelum akhirnya pecah oleh suara bariton yang tak asing lagi. Immanuel Ebenezer, sosok yang dulu lantang berteriak di jalanan sebagai aktivis dan relawan, kini duduk di kursi terdakwa dengan kemeja batik yang rapi. Namun, rapinya pakaian tak mampu menutupi gejolak emosi yang meledak di hadapan majelis hakim.

​"Saya gembong korupsi, saya perintahkan seluruh Kementerian untuk lakukan korupsi massal!"

​Kalimat itu meluncur deras. Bukan sebagai pengakuan dosa, melainkan sebuah ledakan sarkasme. Noel—sapaan akrabnya—tampak sudah habis kesabaran menanggapi dakwaan jaksa yang merinci aset-aset mewahnya, termasuk motor Ducati, yang disita negara. Di matanya, dakwaan itu seolah menempatkannya sebagai aktor intelektual kejahatan luar biasa, sebuah ironi bagi pria yang kariernya dibangun di atas narasi "lawan korupsi".

​Perjalanan Noel memang bak roller coaster. Publik mengenalnya sebagai Ketua Jokowi Mania (JoMan) yang militan, lalu bermetamorfosis menjadi pendukung fanatik Prabowo, hingga akhirnya didapuk menjadi Wakil Menteri Ketenagakerjaan. Posisi yang seharusnya menjadi puncak pengabdian, justru menjadi titik balik yang menyeretnya ke lembah hukum.

​Kasus dugaan pemerasan dalam pengurusan sertifikasi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menjadi batu sandungan. Di ruang sidang Januari 2026 ini, Noel tidak sedang berpidato di atas mobil komando. Ia sedang bertarung memperebutkan sisa-sisa kredibilitasnya.

​Teriakan "Gembong Korupsi" itu adalah manifestasi dari rasa frustrasi. Itu adalah gaya bahasa satir dari seorang politisi yang merasa dipojokkan—sebuah cara untuk berkata, "Jika kalian menganggap saya sejahat itu, maka sekalian saja saya iyakan biar kalian puas."

​Namun, palu hakim tidak mengenal sarkasme. Di mata hukum, emosi hanyalah bunga rampai persidangan. Fakta persidanganlah yang kelak akan menentukan: apakah teriakan itu hanya bentuk keputusasaan seorang mantan pejabat, atau justru sinyal kejatuhan moral yang sesungguhnya?

​Bagi Noel, sidang ini bukan sekadar pembuktian hukum, tapi panggung terakhir untuk menunjukkan siapa dirinya: sang martir yang didzalimi, atau memang "gembong" yang selama ini tersembunyi di balik jubah aktivis. (***)
Share:

0 comments:

Posting Komentar


Arsip