Kamis, 27 November 2025

Di Antara Jasa dan Dosa: Membaca Ulang Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional

Dalam pusaran sejarah Indonesia, nama Soeharto selalu menghadirkan perdebatan. Ada yang mengangkatnya sebagai penyelamat, ada pula yang meninjaunya dari sisi gelap masa kekuasaan. Namun ketika negara menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional, polemik pun mencuat seolah sebagian orang ingin menghapus segala jasanya hanya karena luka sejarah yang belum sempat sembuh.

Padahal, seperti ungkapan Nelson Mandela: “Dendam itu seperti meneguk racun sambil berharap yang mati adalah musuhmu.”
Sejarah seharusnya dilihat dengan kepala dingin, bukan dengan bara kemarahan.

Sebelum menjadi penguasa, Soeharto adalah perwira yang mengukir namanya dalam perjuangan fisik. Ia memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949, sebuah operasi yang mengguncang dunia. Selama enam jam, Yogyakarta ibu kota RI kala itu berhasil direbut kembali dari Belanda. Aksi itu menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia belum tumbang. Serangan itu kemudian populer dengan istilah Serangan Fajar, dan sejak itu nama Soeharto berdiri tegak sebagai simbol perlawanan.

Dua dekade kemudian, Indonesia dilanda krisis ekonomi dan politik pasca-G30S. Inflasi menembus lebih dari 600 persen, harga pangan melambung, dan negara berdiri di ambang keruntuhan. Dalam situasi genting itu, Soeharto hadir membawa stabilitas. Ia bukan satu-satunya penyelamat, namun menjadi figur yang mampu menata ulang arah republik melalui ketertiban dan pembangunan jangka panjang.

Dalam tiga dekade pemerintahannya, jalan, irigasi, listrik, dan industri tumbuh subur.
Puluhan juta rakyat keluar dari kemiskinan, dan Indonesia meraih swasembada beras yang diakui dunia.

Tak hanya itu, sejarawan Anhar Gonggong mengingatkan tentang warisan penting lainnya: pendidikan.
Jika era Soekarno masih banyak kecamatan tanpa sekolah dasar, maka di masa Soeharto lahirlah SD Inpres yang masuk hingga desa-desa terpencil. Anak-anak kembali memiliki ruang belajar sederhana, namun menjadi fondasi lahirnya generasi baru Indonesia.

Namun, sejarah tidak pernah hitam-putih. Ada luka, pelanggaran HAM, korupsi, dan represi yang juga menjadi bagian dari era Orde Baru. Tetapi menghapus jasa hanya karena cela sama saja menolak melihat sejarah secara utuh. Tak ada pemimpin besar tanpa jejak darah, air mata, maupun kesalahan. Bahkan Soekarno, tokoh revolusi, juga tidak sempurna.

Pahlawan bukan malaikat. Mereka adalah manusia yang berbuat besar bagi bangsanya meski tersandung dalam perjalanan kekuasaan.

Menolak Soeharto sebagai pahlawan berarti menolak satu bab penting perjalanan bangsa masa ketika Indonesia belajar disiplin, tertib, dan bangkit dari keterpurukan ekonomi.
Gelar pahlawan bukanlah penghapus dosa, melainkan pengakuan atas peran besar yang membangun negeri ini berdiri tegak.

Sejarah bukan pengadilan moral.
Sejarah adalah cermin yang menunjukkan siapa yang telah berkontribusi besar bagi kelangsungan republik.

Dan waktu telah menjadi saksi paling jujur bahwa Soeharto dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah membangun fondasi ekonomi, pendidikan, dan stabilitas nasional yang membuat Indonesia melangkah dari reruntuhan menuju kemajuan.

Biar polemik berhenti di sini.
Karena gelar itu bukan hadiah politik itu adalah pengakuan sejarah.
Dan sejarah, sekali ditulis, tak dapat dicabut kembali.
Sumber : Indonesiainside.id
#Soeharto #SejarahIndonesia #PahlawanNasional #OrdeBaru #SeranganUmum1Maret #WarisanPembangunan #NarasiBangsa
Share:

0 comments:

Posting Komentar


Arsip